Halaman

Jumat, 25 Januari 2013

Kunjungan Singkat Sultan Sumbawa ke Kodim 1607/Sumbawa

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Sultan Sumbawa, Kaharuddin IV atau lebih dikenal dengan sebutan Daeng Ewan, Jum'at (24/01) siang, melakukan kunjungan singkat ke Kodim 1607/Sumbawa, untuk melihat dari dekat keadaan para pengungsi korban kerusuhan pada 22 Januari 2013 lalu dan sekaligus memberikan bantuan. Sultan Sumbawa yang didampingi Sekretaris Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS), Syukri Rahmat, S.Ag., berkeliling disemua rumah di Asrama Kodim 1607/Sumbawa yang menampung para pengungsi. Rombongan Sultan Sumbawa ini juga didampingi oleh Pasi Intel Kodim 1607/Sumbawa, Kapten Inf. Tamtanus dan Asintel Kodam IX/Udayana, Letkol Inf. Steve Parengkuan, serta perwakilan pengungsi.
Sultan Sumbawa saat berbincang dengan pengungsi
Dalam kunjungannya, Sultan Sumbawa yang mengenakan baju batik bermotif warna kuning dan celana panjang cream, turut menyatakan keprihatinannya atas kejadian yang menimpa para pengungsi korban kerusuhan, sekaligus juga meminta untuk tetap bersabar dan tetap semangat, karena para pengungsi adalah bagian dari masyarakat Sumbawa juga. Sultan juga menyatakan bahwa apa yang telah terjadi merupakan perisitwa yang tidak diduga-duga sebelumnya.
"Kita semua kecolongan, karena apa yang terjadi saat ini diluar dugaan kita semua. Oleh karena itu saat ini mari kita mulai membangun kembali Sumbawa bersama-sama", pinta Sultan disetiap pengungsi yang disinggahi.
Berdasarkan pantauan WARTASumbawa yang mengikuti rombongan, tampak para pengungsi terlihat antusias dengan kedatangan Sultan Sumbawa yang datang untuk memberikan semangat dan keprihatinan mendalam atas semua kejadian yang menimpa para pengungsi. Diantara pengungsi yang didatangi oleh Sultan, tampak pula anggota DPRD dari Partai Golkar, IDM. Oka Budiasa. (WS)

Pengarahan Bupati Sumbawa Kepada Pimpinan SKPD dan Perwakilan Masyarakat

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Terkait dengan persoalan aksi kerusuhan yang terjadi pada 22 Januari 2013 lalu di Kota Sumbawa Besar, Bupati Sumbawa, Drs. H. Jamaluddin Malik, Jum'at (25/01) sekitar pukul 09.00 Wita di Lantai 3, Kantor Bupati Sumbawa, mengumpulkan seluruh pimpinan SKPD/instansi/dinas dan perwakilan masyarakat untuk memberikan pengarahan terhadap persoalan situasi dan kondisi pasca aksi kerusuhan lalu. Bupati Sumbawa yang didampingi oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) minus Kapolres Sumbawa, yang terdiri dari Ketua DPRD, H. Farhan Bulkiyah, SP., Dandim 1607/Sumbawa, Letkol Inf. Agus Supriyanto, Kajari, Sugeng Hariyadi, SH., MH., dan Kepala PN Sumbawa Besar, Moh. Yulihadi, SH., MH., dalam pengarahannya menyatakan bahwa pertemuan saat ini adalah untuk menindaklanjuti pengarahan Gubernur NTB pada 23 Januari 2013, yaitu lima poin yang dua diantaranya telah dilakukan yakni autopsi dan pembongkaran cafe-cafe di Batu Gong.
Pengarahan Bupati di Lantai 3, Kantor Bupati Sumbawa
Bupati Sumbawa juga menyampaikan tiga hal yang menjadi harapan, yaitu masyarakat tidak lagi terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggungjawab, keamanan menjadi tanggungjawab bersama dan Kapolda telah meminta dukungan TNI sampai lima hari kedepan, dan penyebab terjadinya kerusuhan agar ditindak sesuai hukum yang berlaku. Harapan ini disampaikan oleh Bupati Sumbawa agar seluruh masyarakat mendukung langkah penegakan hukum, karena yang terjadi saat ini bukan lagi persoalan orang Sumbawa dengan orang Bali atau Islam dengan Hindu, akan tetapi ini adalah bagian dari tindakan kriminalitas. Selain itu juga masyarakat tidak lagi terjebak dengan isu-isu yang tidak benar.
Dandim 1607/Sumbawa, Letkol Inf. Agus Supriyanto, juga turut memberikan arahan yang pada intinya memohon agar dalam setiap kegiatan keagamaan, para pemuka agama turut menyampaikan ke masyarakat agar jangan sampai terprovokasi terhadap adanya SMS atau berita yang tidak jelas. 
"Jika kita terprovokasi dan menyebarluaskan berita tersebut maka dampaknya akan semakin besar", tegasnya. 
Dandim menambahkan bahwa selain itu masyarakat harus memberikan kepercayaan dan yakin kepada aparat untuk menyelesaikan persoalan ini. Masyarakat harus memiliki kerjasama dalam menjaga keamanan lingkungannya masinh-masing.
Sementara dalam pembacaan hasil autopsi yang dilakukan oleh tim dokter independen dari UNRAM, dr. Alfi Syamsu pada intinya mengatakan bahwa kesimpulan berdasarkan keilmuan sebagai dokter forensik dinyatakan apabila melihat luka-luka yang diderita oleh korban, diidentikkan sebagai luka yang biasa terjadi pada korban meninggal dunia akibat kecelakaan  lalu lintas. Sedangkan hasil lengkapnya akan disampaikan kepada penyidik. (WS)

Kamis, 24 Januari 2013

Seluruh Cafe Batu Gong Dibongkar

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Seluruh bangunan Cafe dan juga warung kecil atau rombong yang berdiri sepanjang jalur jalan diwilayah Batu Gong, Dusun Empan, Desa Labuhan Badas, Kec. Labuhan Badas, saat ini hanya menyisakan puing-puing batu dan kayu yang telah diratakan oleh mesin excavator. Aksi penggusuran dan pembongkaran seluruh bangunan cafe ini dilakukan oleh Pemkab. Sumbawa yang dipimpin langsung dilapangan oleh Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Arasy Muhkan, Kamis (24/01), yang didukung oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh ormas dll. 
Pembongkaran Cafe Nyale di Batu Gong
Pembongkaran ini dimulai dari arah barat, yaitu Cafe Mandalika yang ditemui pertama kali oleh Satpol PP dan TNI sudah rusak terbakar, diduga cafe tersebut telah habis terbakar oleh massa pada saat aksi kerusuhan pada 22 Januari 2013 lalu. Selanjutnya satu persatu bangunan cafe mulai dari perbatasan antara kawasan wisata Batu Gong sampai dengan cafe yang berada didekat pemukiman penduduk di Dusun Empan. Bahkan warung-warung yang biasanya menjual makanan ataupun kios tidak luput dari upaya pembongkaran.
Pembongkaran bangunan cafe disepanjang wilayah Batu Gong dianggap oleh sebagian ormas dan tokoh masyarakat maupun tokoh agama harus dilakukan, karena sesuai dengan surat Bupati tanggal 7 Januari 2012 lalu yang secara resmi menutup beroperasinya cafe-cafe, juga dianggap sebagai sumber permasalahan bagi masyarakat Sumbawa secara umum, terutama pasca kerusuhan di Kota Sumbawa Besar yaitu cafe di Batu Gong dinilai menjadi asal muasal tewasnya salah seorang warga Desa Brang Rea, Kec. Moyo Hulu. Apalagi momen ini adalah hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam upaya pembongkaran ini, sempat terjadi penolakan oleh sebagian masyarakat yang keberatan atas pembongkaran yang dilakukan oleh Pemkab Sumbawa, selain mereka ada yang mengantongi ijin juga pengumuman yang diinformasikan kepada mereka sangat singkat, yaitu hanya H-1 saja. Namun keberatan dan penolakan warga ini tidak mendapat perhatian dari tim pembongkaran dilapangan, sehingga banyak pemilik yang hanya duduk terdiam dan memandangi bangunan mereka rata dengan tanah. (WS)

 

Rabu, 23 Januari 2013

Aksi Kriminal, Polisi Tangkapi Para Pelaku yang Diduga Penjarah

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Aksi penjarahan yang berlangsung sejak rabu siang (23/01) sampai dengan sore, rupanya cukup membuat jengah aparat kepolisian, mengingat para pelaku dengan santainya tanpa memiliki perasaan bersalah membawa barang jarahannya tanpa ada penolakan dari aparat. Hal ini membuat pada malam sampai dengan dini harinya sekitar pukul 03.00 Wita, aparat Brimob Sumbawa yang telah mendapat bantuan dari Kompi Brimob Bima dan Jawa Timur akhirnya melakukan penyisiran dan sweeping terhadap para pelaku penjarahan yang sempat membuat lumpuhnya sektor perekonomian kota Sumbawa Besar. Didukung oleh TNI, pihak Brimob melakukan sweeping terlebih dahulu di areal depan Pasar Seketeng lalu kemudian bergerak menuju Simpang Jam Gadang, dan seterusnya. Selama 3 jam pelaksanaan penyisiran dan sweeping ini, pihak Brimob telah mengamankan hampir sebanyak 90 orang yang diduga menjadi pelaku penjarahan dan diangkut dengan truk Dalmas menuju Kantor Bupati Sumbawa.
Rumah yang terbakar di Jl. Baru Uma Sima.
Aksi penjarahan kembali terjadi pada siang harinya, ketika sebuah toko milik warga etnis tertentu diduga akan dirusak dan dijarah oleh para pelaku penjarahan. Sebelum kehadiran dari pasukan Brimob dan TNI, massa sudah sempat masuk dalam toko, dan kemudian membawa lari beberapa barang untuk disembunyikan. Namun aksi ini tidak begitu lama dilaksanakan, setelah sebanyak 2 peleton Brimob dan TNI dikerahkan untuk menghindari terkonsentrasinya aksi massa di sepanjang jalan protokol Jl. Garuda. Bahkan sampai untuk membubarkan massa tersebut, pihak aparat terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan ke udara.
Dalam aksi kali ini, tim reskrim Polres Sumbawa yang juga diturunkan didekat lokasi telah mengamankan dua orang remaja yang diduga melakukan penjarahan. Penangkapan ini sendiri tidak terlepas dari peran masyarakat sekitar dengan memberikan laporan terhadap adanya oknum warga yang membawa barang jarahan. Sementara itu, menurut informasi yang diperoleh WARTASumbawa bahwa ke-90 orang massa ini akan dilakukan pemisahan, karena diyakini tidak semua warga merupakan pelaku penjarahan. (WS)

Mediasi Rombongan Kapolda NTB di Desa Brang Rea, Kec. Moyo Hulu


Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Aksi kerusuhan yang melanda Kota Sumbawa Besar, sangat berkaitan erat dengan tewasnya Almh. Arniyati, warga Desa Brang Rea, Kec. Moyo Hulu yang diduga akibat kelalaian seorang oknum polisi. Atas dasar hal tersebut, rombongan Kapolda NTB, Brigjen M. Iriawan yang didampingi Wagub NTB, Ir. H. Badrul Munir, dan Bupati Sumbawa, Drs. Jamaluddin Malik, berangkat menuju desa korban untuk melakukan mediasi, selasa malam (22/01). Rombongan langsung diterima diatas rumah panggung oleh ayah dan ibu korban, Hamid Saleh dan Hadiyatullah, yang difasilitasi oleh Kapolsek Moyo Hulu, Iptu. Syaogi Ansar, yang juga turut naik ke atas rumah panggung.
Suasana mediasi rombongan dengan keluarga korban
Dalam mediasi yang berjalan singkat sekitar 45 menit dan dipenuhi dengan suasana keakraban tersebut, pihak keluarga pada intinya menyatakan bahwa ikhlas menerima kematian korban dan tidak menuntut, akan tetapi tetap meminta agar proses hukum terhadap oknum polisi dapat dilakukan secara transparan dan tidak melindungi oknum anggotanya sendiri. Kapolda NTB, Brigjen M. Iriawan, dalam tanggapannya juga memberikan jaminan bahwa korps baju coklat ini akan menindaklanjuti permasalahan yang menyeret salah seorang anggotanya, dan bahkan secara gamblang memberikan kesempatan kepada pihak keluarga untuk turut dalam mengawasi proses hukumnya.
Sementara itu, untuk memberikan dukungan terhadap keluarga korban, Bupati Sumbawa, Drs. Jamaluddin Malik menyampaikan bahwa akan memberikan support kepada pihak keluarga, bahkan apabila dipandang perlu akan mendampingi dalam setiap proses hukum terhadap oknum polisi ini. Dalam penyampaiannya, Bupati Sumbawa sekaligus juga meminta kepada pihak keluarga korban untuk tetap menjaga kondusifitas daerah.
Setelah acara mediasi berlangsung, rombongan langsung bertolak kembali menuju Kota Sumbawa Besar dengan pengawalan dari TNI/Polri.
WARTASumbawa mencatat sebuah hal menarik pada saat melakukan wawancara dengan beberapa warga masyarakat di desa tersebut, salah satu hal tersebut adalah adanya pernyataan dari warga bahwa tidak ada upaya mobilisasi massa yang dilakukan untuk diarahkan ke Sumbawa Besar, karena saat ini warga masyarakat sendiri sedang menghadapi musim tanam. (WS)

Selasa, 22 Januari 2013

Aksi Penjarahan di Sumbawa Besar

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Menyambut HUT Kab. Sumbawa yang jatuh pada 22 Januari 2013, Kota Sumbawa Besar meradang dihadiahi oleh peristiwa kerusuhan yang berujung pada aksi penjarahan oleh warga masyarakat, selasa siang (22/01). Aksi masyarakat ini diduga kuat dipicu oleh kekecewaan dari masyarakat atas insiden kecelakaan maut yang menewaskan Arniyati, salah seorang staf di Disdukcapil Kab. Sumbawa yang juga tercatat sebagai salah satu mahasiswi Fisipol UNSA semester V.
Massa yang berada di UD. Dinasti pada saat dijarah
Aksi kerusuhan ini dimulai pasca aksi demo mahasiswa UNSA yang turun sejak pagi hari. Aksi long march mahasiswa mengundang konsentrasi massa disekitar Pura Suka Duka, depan Suzuki. Tak pelak kondisi ini membuat massa kemudian bergerak untuk melakukan pengrusakan terhadap pura tersebut. Pada akhirnya tanpa mendapat komando, ratusan massa yang sudah menyemut didekat lokasi melakukan aksi pelemparan yang tidak mendapat keberatan berarti dari aparat kepolisian dan TNI yang berada didekat lokasi. Massa yang beringas kemudian mengeluarkan perabot dan barang-barang yang berada didalam pura, untuk selanjutnya dibakar ditengah jalan depan pura tersebut. Sementara dari hasil pengamatan WARTASumbawa, selain barang-barang yang dibakar, tampak bangunan pura didalamnya dalam kondisi yang rusak parah, termasuk bangunan gedung dan pintu pagarnya.
Aksi tersebut kemudian meluas sekitar pukul 14.00 Wita saat terjadi aksi pengrusakan beberapa rumah dan pembakaran 1 unit mobil milik warga etnis tertentu di Jl. Baru Uma Sima. Insiden pembakaran ini memicu massa untuk melanjutkan aksinya menuju UD. Gratama yang berada didekat Kantor Bupati Sumbawa. Setidaknya 3 toko milik etnis tertentu yang berada dalam satu jalur dengan UD. Gratama ini dirusak massa. Puncaknya massa yang sudah berkerumun hampir ribuan jumlahnya mengarah pada UD. Dinasti yang berada tepat dipojok Jl. Kebayan dan berseberangan dengan RSUD. Walaupun sudah mendapat pengawalan dan penjagaan aparat dari Brimob dan TNI, massa yang sudah menyemut ini merangsek masuk dan tidak berapa lama melakukan penjarahan disertai dengan pembakaran yang meluluhlantakkan bangunan toko yang berlantai 2 ini. Api kemudian merembet membakar Hotel Tambora yang berada dibelakang toko dan juga kantor asuransi Bumi Putera. Kebakaran ini disertai dengan dentuman suara tabung gas yang masih berada didalam toko tersebut.
Sampai berita ini diturunkan, massa terlihat sudah melakukan penjarahan dibeberapa lokasi, diantaranya PS Mart, gudang milik UD Puncak Sari di Brang Biji dan Jl. Diponegoro. Sejauh ini belum ada korban jiwa akibat aksi penjarahan dan pembakaran yang dialami oleh warga etnis tertentu. (WS)
SELURUH AWAK MEDIA 
WARTASumbawa


MENGUCAPKAN 


' DIRGAHAYU KAB. SUMBAWA KE-54 '


Semoga memasuki usia ke-54 ini, Kab. Sumbawa mampu berdaya saing
dan bergerak secara dinamis dalam pembangunan untuk mewujudkan
'SAMAWA MAMPIS RUNGAN'




Senin, 21 Januari 2013

Suami Ditahan di Polres, Istri "Demo" PT. NNT

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Belasan warga yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak, Senin siang (21/01) secara tiba-tiba melakukan aksi duduk didepan kantor perwakilan PT. NNT Sumbawa Besar, sambil membawa peralatan masak dan segala kebutuhan sehari-hari, seperti beras, ikan dll. Aksi ini merupakan bagian dari aksi solidaritas yang bertujuan untuk mendesak pihak aparat kepolisian Polres Sumbawa bisa segera membebaskan suami atau ayah mereka, karena mereka menilai bahwa tidak ada alasan yang jelas menyangkut penangkapannya.
Aksi ibu-ibu di depan kantor perwakilan PT. NNT
"Suami saya ditahan, apa salahnya?, buktinya yang bakar itu tidak ada. Kalau ada bukti, tidak apa-apa berapa tahunpun ia masuk penjara", tutur Isah, istri A. Latif Makasau, yang menurutnya sudah ditahan di Polres Sumbawa.
"Kalau suami kami ditahan, jelaskan alasan mereka ditahan. Kalau memang ditahan, apa penyebabnya. Ini yang sedang kami caritahu", tambahnya.
Para istri dari warga yang diamankan pada sabtu lalu ini menilai bahwa apa yang dilakukan oleh suami mereka adalah untuk membela masyarakat, yaitu meminta PT. NNT untuk dapat memberikan bantuan berupa pupuk, benih padi dan alat-alat pertanian. Namun sejauh ini proposal yang disampaikan kepada pihak perusahaan pertambangan ini belum mendapat jawaban pasti.
Sementara itu, aksi damai belasan wanita ini tidak diketahui secara pasti sampai kapan berlangsung. Apabila para suami yang ditahan ini dibebaskan, maka hari itu pula mereka akan langsung pulang ke desanya.
"Kami tidak tahu berapa lama kami akan bertahan. Kalau mereka bebas hari ini, langsung kami pulang. Kasian anak-anak. Kami yakin kalau suami kami tidak bersalah", urai Isah kembali yang diamini oleh para ibu-ibu lainnya.
Terkait dengan keyakinan para ibu-ibu bahwa suami mereka tidak bersalah, dilatarbelakangi oleh kejadian dilapangan bahwa pengambilan barang bukti untuk menjerat suami mereka diperoleh petugas didalam rumah, dan bukan dilokasi pada saat terjadinya aksi penghadangan dimaksud.
"Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap penahanan suami kami, kami juga tidak mencuri dan tidak membakar. Barang yang diambil itu ada dalam rumah saat saya tidak ada dirumah, dan tidak dilapangan. Tiga orang polisi masuk kedalam rumah, dua yang masuk (mengambil barang) dan satu tinggal dipintu. Atas kejadian itu, dua anak saya sampai sekarang sakit, tidak bisa sekolah", timpalnya. (WS)

Minggu, 20 Januari 2013

Aksi Penghadangan, 8 Orang Warga Lenangguar Diamankan

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Sebanyak 8 orang warga Lenangguar diamankan oleh pihak Polres Sumbawa, Sabtu sore kemarin (19/01), setelah mereka dengan keinginan sendiri menyerahkan diri kepada pihak Polres Sumbawa yang menurunkan ratusan personilnya untuk membubarkan aksi penghadangan oleh warga di jembatan kokar ujung Desa Lenangguar. Ke-8 orang yang diamankan ini diangkut oleh pihak Polres Sumbawa dengan menggunakan truk Dalmas yang sudah dipersiapkan oleh pihak kepolisian. Selain melakukan pembubaran aksi penghadangan, pihak kepolisian juga menerjunkan personilnya untuk turut melakukan pengawalan terhadap kendaraan truk tangki pengangkut BBM dan kendaraan pengangkut bahan kebutuhan milik subkon PT. NNT, yang rencananya menuju kamp di Lamurung, Kec. Lenangguar.
Pemeriksaan warga yang diamankan di Polres Sumbawa
Adapun ke-8 orang yang diduga diamankan, yaitu Zaenal Abidin alias Jonindo, Alimuddin, A. Latif Makasau, Syapruddin, Kurniawan, Sabaruddin, Lukman, dan Johansyah. Dari 8 orang tersebut, 7 orang diantaranya merupakan warga Dusun Lenangguar, Desa Lenangguar dan seorangnya adalah warga Dusun Teladan, Desa Teladan, Kec. Lenangguar. Ke-8 orang ini diduga kuat telah melakukan aksi penghadangan terhadap pengiriman barang kebutuhan yang akan digunakan dalam eksplorasi PT. NNT sejak  minggu lalu, sehingga perusahaan pertambangan multinasional tersebut merasa terancam dan dirugikan,
Saat ini ke-8 warga tersebut masih dalam pemeriksaan pihak Polres Sumbawa. Sampai dengan berita ini diturunkan, WARTASumbawa belum mendapat informasi menyangkut ancaman sanksi yang diterima oleh mereka atau apakah akan dibebaskan dengan syarat. (WS)

Kamis, 17 Januari 2013

Massa LLH "Mengamuk" Kembali di Kantor PT. NNT

Sumbawa Besar, WARTASumbawa.
Belasan massa LLH yang sejak dua hari lalu menginap di depan kantor perwakilan PT. NNT Sumbawa Besar, Kamis (17/01) kembali 'mengamuk', karena menganggap pihak PT. NNT tidak merespon atas aksi mereka selama ini. Berangkat dari kekecewaan tersebut, massa LLH berniat untuk melakukan usaha penyegelan kembali pintu gerbang kantor. Namun aksi ini tetap mendapat penolakan dari pihak kepolisian yang juga tetap menyuarakan agar orasi yang dilakukan tidak disertai tindakan yang bisa menyalahi UU No. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan mengeluarkan pendapat di muka umum.
Aksi bakar diri Ketua LLH saat ditahan oleh massa
Tindakan massa aksi yang tidak bergeming menyebabkan pihak kepolisian memukul mundur segelintir massa yang tetap memaksakan untuk menyegel pintu gerbang kantor PT. NNT. Jengah dengan tindakan kepolisian yang dianggap melakukan kekerasan terhadap dirinya, Ketua LLH, M. Taufan didampingi dengan beberapa kawannya melaporkan hal tersebut ke pihak Polres Sumbawa, yang ditemui langsung oleh Kasubag Humas Polres Sumbawa, AKP. Musa SH. Perwira yang pernah lama bertugas di Bima ini menyarankan agar M. Taufan dkk membuat laporan atas tindakan aparat dibagian pelayanan. Saran ini kemudian tidak diindahkan oleh M. Taufan dkk, yang langsung kembali menuju lokasi aksi.
Setelah rehat, massa LLH yang telah mendapat bantuan massa dari LSM Gerakan Rakyat Perduli Daerah (GARUDA) dan LSM Cendrawasih Setia, kembali melakukan orasi disertai dengan ancaman bakar diri oleh M. Taufan. Aksi nekad ini digagalkan oleh para massa aksinya sendiri.
Sementara itu, dari pernyataan sikap yang diperoleh WARTASumbawa, massa LLH menuntut 5 hal, yaitu pelaksanaan program reboisasi hutan dan penataan tata ruang desa di Kec. Lantung dan Kec. Ropang, pembuatan base camp di Kec. Ropang, alokasi anggaran dan pembiayaan tim pemantau kebijakan perusahaan, penghentian pengiriman atau penerimaan tenaga kerja dari luar Kab. Sumbawa, dan pembangunan talut pengaman tebing sungai di Desa Padesa, Kec. Lantung dan perbaikan ruas jalan Lito-Lantung. WARTASumbawa sampai sejauh ini belum mendapat keterangan resmi dari pihak PT. NNT menyangkut aksi massa yang dilakukan oleh LLH dan LSM lainnya. (WS)